Mother of the Believers by Kamran Pasha Download (read online) free eBook .pdf.epub.kindle

Mother of the Believers

Deep in the heart of seventh-century Arabia, a new prophet named Muhammad has arisen. As his message of enlightenment sweeps through Arabia and unifies the warring tribes, his young wife Aisha recounts Muhammad’s astonishing transformation from prophet to warrior to statesman. But just after the moment of her husband’s greatest triumph — the conquest of the holy city of M
Kerlip Bintang

penonton kuciwa.
gak ada riuh tepuk tangan saat selesai baca novel sejarah ini.

Nabi Muhammad saw yang kukenal dari buku-buku dan ceramah adalah seorang rasul yang sangat gagah berani dan lembut hati (bukan lebay cenderung feminim seperti yang digambarkan buku ini).

Beliau seorang jagoan perang, bukan komandan berada di barisan paling belakang atau berdiam diri di tenda dan membutuhkan orang lain untuk melindungi dari tebasan pedang para musuh.

Muhammad saw yang kutahu menikah dengan janda-janda per

Nabi Muhammad saw yang kukenal dari buku-buku dan ceramah adalah seorang rasul yang sangat gagah berani dan lembut hati (bukan lebay cenderung feminim seperti yang digambarkan buku ini).

Beliau seorang jagoan perang, bukan komandan berada di barisan paling belakang atau berdiam diri di tenda dan membutuhkan orang lain untuk melindungi dari tebasan pedang para musuh.

Muhammad saw yang kutahu menikah dengan janda-janda perang tua renta, bukan janda-janda cantik nan ranum.

Dari awal buku ini menyiratkan permusuhan antara Siti Aisyah dan Ali Bin Abu Thalib. Juga percekcokan gak penting antara istri – istri nabi.

Juga pemberontakan (dalam hati) para istri ketika munculnya ayat-ayat Al-qur’an tentang jilbab.

Errrrrgghhh…. sekelas Nabi dan keluarga seharusnya levelnya sudah “Kami mendengar dan Kami taat”.

Bukan buku yang akan kurekomendasikan kepada siapa pun. Terutama yang ingin mengenal Islam lebih dekat.

Berapa bintang? Minus!
Geram sama penulis bukunya. Sumpah!
…more

Fauziyyah Arimi

Apr 29, 2011

rated it
really liked it

 · 
review of another edition

Shelves:
biografi-tokoh

Ini novel ketiga, sebuah fiksi berbasis sirah Nabawiyah, yang saya baca. Fiksi pertama semacam ini yang saya lahap adalah Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan (kemudian akan saya singkat menjadi MLPH) karya Tasaro GK. Fiksi kedua yang juga berbasis sirah Nabawiyah yang saya baca sebelumnya adalah Pengikat Surga karya Hisani Bent Soe. (saya kagum kepada penulis yang bisa berdedikasi dengan cara seperti ini, pasti membutuhkan keberanian dan bekal literasi yang banyak juga menajamkan kehati-hatian da

MLPH, mengambil sudut pandang seorang nonmuslim yang menceritakan sosok Muhammad. Pengikat Surga mendudukkan Asma’ sebagai narator secara keseluruhan. Novel ini, Humaira, adalah tentang ‘Aisyah yang menuliskan kehidupannya kepada ‘Abdullah putra Asma’ yang tidak lain merupakan kemenakannya.

Kamran Pasha, penulis Humaira, menderaskan novel ini dengan penginderaan yang kuat. Ruqayyah, Putri Rasulullah digambarkan sangat cantik dan memiliki kulit mulus yang lebih terang dari Rasulullah. Fatimah digambarkan sebagai seorang yang pendiam dan serius. ‘Ali memiliki mata yang hijau, pandangannya yang menusuk dan kata-katanya yang mengandung ramalan (mirip Rasulullah). Lalu Ummu Salamah, Ummul Mukminin yang dicemburui ‘Aisyah, adalah perempuan yang memiliki mata yang cemerlang dan senyum yang menawan. Ummu Salamah adalah seorang yang sabar dan memiliki kepribadian yang menyenangkan. Muawiyah, diceritakan terlahir saat bintang Zuhal bersinar. Dimana Muawiyah dilahirkan dengan firasat tajam dalam mencapai tujuan.

Atau penggambaran Zulfikar, pedang Rasulullah. Sebilah pedang, yang adalah dua bilah pedang (sebenarnya) karena pedang itu terbagi menjadi dua saat pedang itu meruncing ke ujungnya, membuatnya kelihatan bagaikan lidah ular yang bercabang. Pangkalnya terbuat dari perak yang diperhalus dan benang emas tertanam di pedang kembar itu. Pedang itu berkemilau kehitaman seolah-olah menegaskan bahwa dirinya tidak ditempa dari baja tapi dari bahan besi lain

Penginderaan yang kuat, yang dilancarkan oleh Kamran Pasha ini yang membuat tiap karakter yang disebutkan dalam novel ini tidak hanya berlalu-lalang seumpama figuran, tetapi mereka menjadi lebih jelas dan membuat saya lebih lekat mencirikan mereka. Bahkan kadang membuat saya meyakini betapa manusiawinya mereka. (not to mention clearly, saya menjadi benci sekaligus jengkel dengan karakter Hindun- melalui penggambaran Kamran Pasha)

Awal novel ini beritme lambat, tetapi setelah fragmen meninggalnya Rasulullah, cerita dalam novel ini jadi terasa bergegas. Dan itu wajar, menurut saya.

Kamran Pasha beberapa kali, dan bisa dikatakan sering, menyelipkan sekelebat kejadian masa depan (ramalan) disela-sela ceritanya sehingga membuat saya (sebagai pembaca) penasaran. Seperti ketika ia menceritakan gambaran akan adanya jurang yang selalu bisa memisahkan ‘Ali dengan Muawiyah. Hal tersebut ia selipkan dalam fragmen awal masuk Islamnya Muawiyah. Atau ketika ia menyelipkan gambaran kelemahlembutan Utsman yang akan berakibat fatal bagi umat Muslim dibawah pimpinannya kelak. Atau tentang keberadaan ‘Aisyah, yang kelak berlaku seperti Hindun yang mampu menggiring pendapat dan memiliki andilnya dalam perang saudara Aisyah-Thalhah-Zubair dengan ‘Ali.

Sayangnya, dalam fragmen yang menyertakan keadaan turunnya wahyu, tidak diberikan catatan ayat yang turun. Tidak seperti di novel Pengikat Surga. Lalu, seperti novel luar lainnya, ada beberapa fragmen secara terbuka digambarkan intim (entahlah, itu menurut saya). Hal ini ada pada fragmen-fragmen rumah tangga Rasulullah. InsyaAllah, masih dalam kondisi yang wajar.

Awalnya saya tidak melihat daftar pustaka dibagian belakang novel ini. Membuat saya menyayangkan kekurangan itu. Tapi kemudian, Kamran Pasha justru menyembutkan literatur yang membantu penyusunan novel itu secara narasi dibagian catatan pengarang.

Overall, novel ini cemerlang. Saya menyukainya. Dari tiga fiksi berbasis sirah Nabawiyan yang saya baca, Humaira menjadi yang paling indah. Meski diksi indah dari MLPH terasa lebih deras, tapi secara proporsi, novel ini terasa pas.

Oia, buat teman-teman yang agak berhati-hati membaca sirah (apalagi ini fiksi berbasis sirah) dan menandai sekali latar belakang pengarang, saya kutipkan catatan pengarang yang mungkin berguna untuk
dipertimbangkan.

Sebagai catatan, saya sendiri adalah seorang muslim. Secara teologis saya menganggap diri saya sebagai seorang Sunni dan secara spiritual saya tertarik pada tasawuf. Secara silsilah, saya adalah seorang Sayyid, keturunan langsung Nabi Muhammad melalui putri beliau Fatimah dan cucunya Hussain.

Maksud saya menulis novel ini adalah untuk membuka pandangan orang-orang Barat akan kekayaan yang ada dalam tradisi sejarah muslim dan mengundang semua pembaca untuk mengetahui lebih banyak tentang Islam dan menarik kesimpulan masing-masing

Berikut literatur yang menjadi referensi Kamran Pasha:

Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources (Martin Lings); The Prophet Muhammad: A Biography dan Heirs of Muhammad (Barnaby Rogerson); Muhammad: Prophet and Statesman (Montgomery Walt); Muhammad: A Biography of the Prophet (Karen Armstrong); The Scimitar and The Veil: Extraordinary Women of Islam (Jennifer Heath); Muhammad, Islam’s First General. The Great Arab Conquest (Richard A. Gabriel); No god But God (Reza Aslan); Islam and Destiny of Man (Charles Le Gai Eaton); The Secret of Islam (Henry Bayman); The Vision of Islam (Sachiko Murata & William Chittick); Understanding Islam (Fritjof Schuon); The Qur’an: Text, Translation and Commentary (Abdullah Yusuf Ali); The Message of The Holy Qur’an (Muhammad Asad).

…more